Tafsir Basmalah Dan Hukum-Hukumnya Bagian 2

Publikasi: Kamis, 16 Jumadil Awwal 1434 H / 28 Maret 2013 08:07

Tafsir Basmalah Dan Hukum-Hukumnya Bagian 2

myblog.com/sr

Keutamaan basmalah

Imam Abu Muhammad Abdur Rahman ibnu Abu Hatim mengatakan di didalam kitab Tafsir-nya. bahwa telah menceritakan kepada kami ayahku, telah rnersceritakan kepada kami Ja’far ibnu Musafir, telah

menceritakan kepada kami Zaid ibnul Mubarak As-San’ani, telah menceritakan kepada kami Salam ibnu Wahb Al-Jundi, telah menceritakan kepada kami ayahku, dari Tawus, dari Ibnu Abbas, bahwa Us-man bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang basmalah. Beliau menjawab

Basmalah merupakan salah satu dari nama-nama Allah; antara dia dan asma Allahu Akbar jaraknya tiada lain hanyalah seperti antara bagian hitam dari bola mata dan bagian putihnya karena saking dekatnya.

 

Hal yangHal yang sama diriwayatkan pula oleh Abu Bakar ibnu Murdawaih, dari Sulaiman ibnu Ahmad, dari Ali ibnul Mubarak, dari Zaid ibnul Mubarak. Al-Hafiz ibnu Murdawaih meriwayatkan melalui dua jalur, dari Ismail ibnu Iyasy, dari Ismail ibnu Yahya, dari Mis’ar, dari Atiyyah, dari Abu Sa’id yang mengatakan bahwa Rasulullah Saw. Pernah ber-sabda,

“Sesungguhnya Isa ibnu Maryam a.s. diserahkan oleh ibunya kepada guru tulis untuk diajar menulis. Kemudian si guru berkata ke-padanya, Tulislah.’ Isa a.s. bertanya, ‘Apa yang harus aku tulis?’ Si guru menjawab, ‘Bismillah.” Isa bertanya kepadanya, ‘Apakah arti bismillah itu?’ Si guru menjawab, ‘Aku tidak tahu.’ Isa menjawab, ‘Huruf ba artinya cahaya Allah, huruf sin artinya sinar-Nya, huruf mim artinya kerajaan-Nya, dan Allah adalah Tuhan semua yang di-anggap tuhan. Ar-Rahman artinya Yang Maha Pcmurah di dunia dan di akhirat, sedangkan Ar-Rahim artinya Yang Maha Penyayang di akhirat’.”

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir melalui hadis Ibrahim ibnul Ala yang dijuluki dengan sebutan Ibnu Zabriq, dari Ismail ibnu Iyasy, dari Ismail ibnu Yahya, dari Ibnu Abu Mulaikah, dari sese-orang

yang menceritakannya, dari Ibnu Mas’ud dan Mis’ar, dari Atiyyah, dari Abu Sa’id yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pemah bersabda.

Kemudian ia menuturkan hadis ini, tetapi predikat-nya garib (aneh) sekali. Barangkali berpredikat sahih sampai kepada orang selain Rasulullah Saw., dan barangkali hadis ini termasuk salah satu dari hadis

israiliyat, bukan dari hadis yang marfu’. Juwaibir meriwayadcannya pula sebelum dia, dari Dahhak.

Ibnu Murdawaih meriwayatkan dari hadis Yazid ibnu Khalid, da-ri Sulaiman ibnu Buraidah; sedangkan menurut riwayat lain dari Ab-dul Karim Abu Umayyah, dari Abu Buraidah, dari ayahnya, bahwa

Rasulullah Saw. bersabda:

Telah diturunkan kepadaku suatu ayat yang belum pernah ditu-runkan kepadaseorang nabipun selain Sulaiman ibnu Daud dan aku sendiri, yaitu bismillahir rahmanir rahim (Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang).

 

Ibnu Murdawaih meriwayatkannya pula benkut sanadnya melalui Ab-dul Karim Al-Kabir ibnul Mu’afa ibnu Imran, dari ayahnya, dari Umar ibnu Zar, dari Ata ibnu Abu Rabah, dari Jabir ibnu Abdullah yang menceritakan bahwa ketika diturunkan kalimat berikut:

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Maka seluruh awan lari ke arah timur, angin hening tak bertiup, se-dangkan lautan menggelora, semua binatang mendengar melalui teli-nga mereka, dan semua setan dirajam dari langit. Pada saat itu Allah Swt. bersumpah dengan menyebut keagurgan dan kemuliaan-Nya bahwa tidak sekali-kali asma-Nya (yang ada dalam basmalah) diucap-kan terhadap sesuatu melainkan Dia pasti memberkatinya.Waki’ mengatakan dari Al-A’masy, dari Abu Wa’il, dari Ibnu Mas’ud yang mengatakan bahwa barang s i api yang ingin diselamat-kan oleh Allah dari Malaikat Zabaniyah yang jumlahnya sembilan belas (Zabaniyah adalah juru penyiksa neraka), hcndaklah ia mem-baca:

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Allah akan menjadikan sebuah surga baginya pada setiap huruf dari basmalah untuk menggantikan setiap Malaikat Zabaniah. Hal ini dike-tengahkan oleh Ibnu Atiyyah dan Al-Qurtubi, diperkuat dan didukung oleh Ibnu Atiyyah dengan sebuah hadis yang mengatakan, “Sesung-guhnya aku melihat lebih dari tiga puluh malaikat berebutan (menca-tat) perkataan seorang lelaki yang mcngucapkan, ‘rabbana walakal hamdu hamdan ka’siran layyiban mubanikan jfhi’ (Wahai Tuhan ka-mi, bagi-Mulah segala puji dengan pujian yang sebanyak-banyaknya, baik lagi diberkati),

mengingat jumlah semuahurufhya ada sembilan belas.” Dan dalil-dalil lainnya. Imam Ahmad ibnu Hambal di dalam kitab Musnad-nya mengata-kan bahwa telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ja’far, telah mcnceritakan kepada kami Syu’bah, dari Asim yang mengata-kan bahwa ia pernah mendengar dari Abu Tamim yang menceritakan hadis dari orang yang pernah membonceng Nabi Saw. Si pembonceng menceritakan:

Unta kendaraan Nabi Saw. terperosok, maka aku mengatakan, “Celakalah setan.” Maka Nabi Saw. bersabda, “Janganlah kamu katakan, ‘Celakalah setan,’ karena sesungguhnya jika kamu ka-takan demikian, maka ia makin membesar, lalu mengatakan, ‘Dengan kekuatanku niscaya aku dapat mengalahkannya.’ Tetapi jika kamu katakan, ‘Dengan nama Allah,’ niscaya si setan makin mengecil hingga bentuknya menjadi sebesar lalat.”

Demikian menurut riwayat Imam Ahmad. Imam Nasai di dalam kitab Al-Yaumu wal Lailah dan Ibnu Murdawaih di dalam kitab Tafsir-nya. telah meriwayatkan melalui hadis Khalid Al-Hazza, dari Abu

Ta-mimah (yaitu Al-Hujaimi), dari Abul Malih ibnu Usamah ibnu Umair, dari ayahnya yang menceritakan bahwa ia pernah membon-ceng Nabi Saw. Selanjutnya dia menuturkan hadis hingga sampai pa-da sabda Nabi Saw. yang mengatakan:

Jangan kamu kalakan demikian, karena sesungguhnya setan nan-ti akan makin membesar hingga bentuknya seperti rumah. Tetapi katakanlah, “Bismillah” (dengan nama Allah), karena sesungguh-nya dia akan mengecil hingga bentuknya seperti lalat

Demikian itu terjadi berkat kalimah bismillah. Karena itu, pada per-mulaan setiap perbuatan dan ucapan disunatkan terlebih dahulu mem-baca basmalah. Membaca basmalah disunatkan pada permulaan khotbah,

berda-sarkan sebuah hadis yang mengatakan:

Setiap perkara yang tidak dimulai dengan bacaan bismillahir rahmanir rahim (Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang), maka perkara itu kurang sempurna. Disunatkan membaca basmalah di saat hendak memasuki kamar ke-cil, berdasarkan sebuah hadis yang menganjurkannya. Disunatkan pu-la membaca basmalah pada permulaan wudu, berdasarkan sebuah ha-dis yang disebutkan di dalam Musnad Imam Ahmad dan kitab-kitab Sunan. melalui riwayat Abu Hurairah dan Sa’id ibnu Zaid serta Abu Sa’id secara marfu’. yaitu:

Tidak ada wudu bagi orang yang tidak menyebut asma Allah ibismillah) dalam wudunya.

Hadis ini berpredikat hasan.

 

Di antara ulama ada yang mewajibkannya di saat hendak mela-kukan zikir, dan di antara mereka ada pula yang mewajibkannya se-cara mutlak. Membaca basmalah disunatkan pula di saat hendak me-lakukan penyembelihan, menurut mazhab Imam Syafii dan segolong-an ulama. Ulama lain mengatakan wajib di kala hendak melakukan zikir, juga wajib secara mutlak menurut pendapat sebagian dari me-reka, sepcrti yang akan dijelaskan pada bagian lain. Ar-Razi di dalam kitab Tafsir-nya menyebutkan hadis mengenai

keutamaan basmalah, antara lain dari Abu Hurairah r.a. discbutkan

bahwa Rasulullah Saw. pemah bersabda: Apabila kamu mendatangi istrimu, maka sebutlah asma Allah,

karena sesungguhnya apabila ditakdirkan bagimu punya anak, niscaya akan dicatatkan bagimu kebaikan-kebaikan menurut bi-langan helaan napasnya dan napas-napas keturunannya.

Akan tetapi, hadis ini tidak ada pokoknya, dan aku (penulis) belum pemah melihatnya dalam suatu kitab pun di antara kitab-kitab yang dapat dipegang, tidak pula pada yang lainnya. Disunatkan membaca basmalah di saat hendak makan, seperti apa yang disebutkan di dalam hadis sahih Muslim yang menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda kepada anak tirinya, yaitu Umar ibnu Abu Salamah:

Ucapkanlah bismillah, dan makanlah dengan tangan kananmu serta makanlah makanan yang dekat denganmu.

Sebagian ulama mewajibkan membaca basmalah dalam keadaan se-perti itu.

Disunatkan pula membaca basmalah di saat hendak melakukan sanggama, seperti yang disebutkan dalam hadis Sahihain melalui Ibnu Abbas, bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

Seandainya seseorang di antara kalian hendak mendatangi istri-nya, lalu ia mengucapkan, “Dengan menyebut asma Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkanlah setan darianak yang Engkau rezekikan (anugerahkan) kepada kami,” kare-na sesungguhnya jika ditakdirkan terlahirkan anak di antara ke-duanya, niscaya setan tidak dapat menimpakan mudarat terha-dap anak itu untuk selama-lamanya.

Berawal dari pengertian ini dapat dikatakan bahwa kedua pendapat di kalangan ahli nahwu dalam masalah lafaz yang dijadikan ta’alluq (kaitan) oleh huruf ba dalam kalimat Bismillah, apakah berupa^’// atau isim, keduanya sama-sama mendekati kebenaran. Masing-masing pendapat memang ada contohnya di dalam Al-Qur’an. Pendapat yang mengatakan bahwa ta’alluq-nya berupa isim, hingga bentuk lengkapnya menjadi seperti berikut: “Dengan menye-but asma Allah kumulai”, contohnya di dalam Al-Qur’an ialah fir-man-Nya:

Dan Nuh berkata, “Naiklah kamu sekalian ke dalamnya dengan menyebut nama Allah di waktu berlayar dan berlabuh.” Sesung-guhnya Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Pe-nyayang. (Hud: 41)

Orang yang memperkirakannya dalam bentuk fi’il, baik fi’il amar ataupun khabar (kalimat berita), contohnya ialah: “Aku memulai de-ngan menyebut asma Allah” atau “Dengan nama Allah aku memulai”, seperti pengertian yang terkandung di dalam firman-Nya:

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan. (Al-’Alaq: 1)

Kedua pendapat tersebut benar, karena suatu fi’il pasti mempunyai masdar. Maka Anda boleh memperkirakan ta’ alluq-nya dalam bcntuk fi’il atau masdar-nya. Yang demikian itu disesuaikan dengan pekerja an yang akan dibacakan basmalah untuknya, misalnya duduk, berdiri, makan, minum, membaca, wudu, ataupun salat.  Hal yang dianjurkan ialah membaca basmalah di kala hendak melakukan semua hal yang disebutkan untuk memperoleh berkah dan rahmat serta pertolongan dalam menyelesaikannya dan agar diterima oleh Allah Swt.

 

Ibnu Jarir dan Ibnu Abu Hatim meriwayatkan melalui hadis Bisyr ibnu Imarah, dari Abu Rauq, dari Dahhak, dari Ibnu Abbas yang mengatakan bahwa hal yang mula-mula dibawa turun oleh Ma-laikat

Jibril kepada Nabi Muhammad Saw. ialah: “Hai Muhammad, katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Allah Yang Maha Mendengar la-gi Maha Mengetahui dari godaan setan yang terkutuk’.” Kemudian Malaikat Jibril berkata, “Katakanlah bismillahir rahmanir rahim (Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang).” Jibril berkata kepadanya, “Hai Muhammad, sebutlah asma Allah, bacalah dengan menyebut asma Allah —Tuhanmu— dan berdiri serta duduklah dengan menyebut asma Allah,” menurut lafaz Ibnu Jarir. Apakah lafaz isim (yang ada pada lafaz Bismi) merupakan mu-samma (yang diberi nama) atau lainnya? Dalam hal ini ada tiga pen-dapat, yaitu:

Pertama, isim adalah musamma (yang diberi nama). Pendapat ini dikatakan oleh Abu Ubaidah dan Imam Sibawaih, kemudian dipilih oleh Al-Baqilani dan Ibnu Faurak; dikatakan pula oleh Ar-Razi (yaitu Muhammad ibnu Umar) yang dikenal dengan julukan Ibnu Khatib Ar-Ray di dalam mukadimah kitab Tafsir-nya.

Kedua, menurut golongan Al-Hasywiyyah, Al-Karamiyyah, dan Al-Asy’ariyyah, isim adalah diri yang dibcri nama, tetapi bukan na-manya. Ketiga, menurut Mu’tazilah isim bukan menunjukkan yang diberi

nama, tetapi merupakan namanya. Menurut pendapat yang terpilih di kalangan kami, isim bukan menunjukkan yang diberi nama, bukan pula namanya. Kemudian ka-mi simpulkan, jika yang dimaksud dengan istilah “isim” adalah “sua-ra dari huruf-huruf yang tersusun”, maka menurut kesimpulannya isim

bukanlah musamma, sekalipun menurut makna yang dimaksud dengan isim adalah diri musamma (yang dibcri nama). Hal seperti ini tcrmasuk ke dalam Bab “Menjelaskan Hal yang Sudah Jelas BerartiTidak Ada Gunanya”. Maka dapat dibuktikan bahwa melibatJcan diri ke dalam pembahasan ini dengan mengadakan scmua hipotesis sama saja dengan membuang-buang waktu yang tidak ada guna. Kemudian dibahas hal yang menunjukkan adanya perbedaan an-tara isim dan musamma. Disebutkan bahwa adakalanya isim memang ada, tetapi musamma-nya tidak ada, seperti lafaz ma’dum (yang tidak ada). Adakalanya sesuatu itu mempunyai banyak isim (nama), sepcrti lafaz mutaradif (s’momm). Adakalanya isim-nya satu, sedangkan mu-samma-nya berbilang, seperti lafaz yang musytarak (satu lafaz yang mempunyai dua makna yang bertentangan). Hal tersebut menunjuk-kan adanya perbedaan antara isim dan musamma, dan isim merupakan lafaz, sedangkan musamma adalah pcnampilannya; musamma itu ada-kalanya merupakan zat yang mungkin atau wajib keberadaan zatnya. Lafaz an-nar (api) dan a’s-salj (es) seandainya merupakan musamma, niscaya orang yang menycbutnya akan mcrasakan panasnya api dan dinginnya es. Akan tctapi. tentu saja hal scpcrti ini tidak akan dikc-mukakan oleh orang yang bcrakal waras. Juga karena Allah Swt. te-lah bcrfirman:

Allah mempunyai asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu. (Al-A’raf: 180)

N’abi Saw. telah bersabda:

Sesungguhnya Allah memiliki sembilan puluh sembilan isim (nama).

Ini adalah nama yang banyak, tetapi musamma-nya adalah esa, yaitu Allah Swt. Allah pun telah berfirman:

Allah mempunyai nama-nama. (Al-A’raf: 180)

Allah telah meng-idafah-km nama-nama itu kepada dirinya, seperti yang terdapat di dalam firman-Nya:

Maka bertasbihlah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Mahabesar. (Al-Waqi’ah: 74)

Demikian pula yang lain-lainnya yang semisal; kesimpulannya me-nyatakan bahwa idafah memberikan pengertian mugayarah (perbeda-an antara isim dan musamma). Allah Swt. telah berfirman:

maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu. (Al-A’raf: 180)

Hal ini menunjukkan bahwa isim bukanlah zat Allah. Sedangkan orang yang berpendapat bahwa isim adalah musam-ma, beralasan dengan firman-Nya:

Mahaagung nama Tuhanmu Yang mempunyai Kebesaran dan Karunia. (Ar-Rahman: 78)

Yang Mahaagung adalah Allah Swt, sebagai jawabannya ialah bahwa isim yang diagungkan untuk mengagungkan Zat Yang Mahasuci; de-mikian pula jika seorang lelaki mengatakan Zainab —yakni

istrinya— tertalak, maka Zainab menjadi terceraikan. Seandainya isim bukanlah musamma, niscaya talak tidak akan jatuh kepadanya, dan tentu saja sebagai jawabannya dikatakan bahwa makna yang dimaksud

ialah diri yang diberi nama Zainab terkena talak. ,Ar-Razi mengatakan bahwa tasmiyah artinya “menjadikan isim ditentukan untuk diri orang yang bersangkutan”, maka diri orang tersebut bukanlah isim-nya.