RUU Kumpul Kebo, Legalitas Cambuk Buat Para Penzinah

Publikasi: Selasa, 14 Jumadil Awwal 1434 H / 26 Maret 2013 11:11

RUU Kumpul Kebo, Legalitas Cambuk Buat Para Penzinah

allblog.com/sr

Beberapa hari ini terjadi gonjang ganjing di masyarakat indonesia tentang berbagai RUU yang akan di syahkan oleh DPR salah satunya adalah RUU tentang Perzinahan

Pasal 485 Rancangan KUHP menyebutkan

Setiap orang yang melakukan hidup bersama sebagai suami istri di luar perkawinan yang sah, dipidana penjara paling lama 1 tahun atau pidana paling banyak Rp 30 juta. Hukuman ini bersifat alternatif yaitu hakim dapat memilih apakah dipidana atau didenda. ”

Pemerintah kemudian mempertegasnya di penjelasan pasal tersebut dengan bunyi: Ketentuan ini dalam masyarakat dikenal dengan istilah “kumpul kebo”.

Menurut Pemerintah latar belakang masuknya kasus kumpul kebo dalam definisi pidana, Direktur Jenderal Perundang-undangan Kemenkumham, Wahidudin Adams menjawab bahwa masalah tersebut sudah meresahkan masyarakat sejak lama.
Dari hasil survei tentang pelajar yang melakukan perzinahan (free sex) atau yang dikenal dengan sebutan kumpul kebo, ternyata 62% dari responden pelajar SMP pernah melakukan hubungan sex, dan 27% sudah pernah melakukan tindakan aborsi. Sangat mengerikan membayangkan masa depan negeri ini.
“Kami menangkap geliat keresahan masyarakat ini,” kata Wahidudin

pasal itu dinilai memenuhi semangat untuk menjaga moral masyarakat Indonesia,

Dalam KUHP yang berlaku saat ini sudah ada undang-undang tentang perzinahan, tetapi hanya berlaku bagi pasangan yang sudah bersuami atau beristri dan belum menjangkau pasangan yang masih lajang atau pasangan dibawah umur yang melakukan sex bebas.

Di Barat, kumpul kebo atau samen leven tidak memidana pasangan kumpul kebo. Di sejumlah daerah di Indonesia, pasangan kumpul kebo diarak keliling kampung atau dikawinkan paksa. Itulah sebabnya lahir RUU KUHP untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.

Pemerintah mengusulkan RUU KUHP ke DPR pada 6 Maret lalu Undang-undang ini bertujuan untuk mengurangi sex bebas yang sekarang ini marak dan seolah sudah menjadi hal yang lumrah. “Ini mesti diatur agar seks bebas tidak merajalela di masyarakat supaya tidak merusak generasi sekarang dan yang akan datang,”

siapakah yang menolak

beberapa kalangan di  indonesia seperti kebakaran jenggot mendengar RUU tersebut akan disyahkan,  salah satu pentolan JIL (jaringan Islam Liberal ) ulil yang juga sekarang salah seorang pengurus Partai Demokrat ini berkicau dalam twitternya bahwa hukum Islam sudah tidak sesuai dengan zaman, tidak perlu dipakai lagi.dan dengan tegas menolak diberlakukannya RUU tersebut, okelah mas ulil anda memang pengemar sex bebas yang sudah terbukti (masih ingat kata munawar sekjen FPI soal ulil menghamili gadis dibawah umur ), wajar anda menolaknya ,  bahkan , Sosiolog Universitas Indonesia (UI) Thamrin Tamagola malah tidak setuju diberlakukannya RUU Kumpul Kebo. Ia menilai Rancangan KUHP itu sebagai hal yang gegabah. “Sebaiknya negara menyerahkan masalah kumpul kebo kepada masing-masing masyarakat,” ujar Thamrin ngawur.

Guru Besar Ilmu Hukum Pidana Universitas Trisakti Andi Hamzah mengatakan, pasal soal perzinahan atau kumpul kebo juga akan ramai diperdebatkan dalam pembahasan RUU KUHP.

Karena, ternyata ada beberapa daerah di Indonesia yang mentolerir perlakuan kumpul kebo ini.

“Ada 3 daerah di Indonesia ini yang mentolerir kumpul kebo. Yaitu Minahasa, Bali dan Mentawai,” ujarnya dalam diskusi polemik di Warung Daun Cikini dengan tema ‘Dari pasal karet hingga pasal santet RUU KUHP, Sabtu (23/3).

Kata Andi Hamzah, kalau kumpul kebo itu di atur dalam KUHP, dikawatirkan mereka akan keluar dari NKRI. Soalnya, pasal kumpul kebo itu sudah pernah diperdebatkan 20 tahun lalu, apakah perlu diatur atau tidak. Termasuk, pelakukan perlu dipidanakan atau tidak. “Saya katakan waktu itu bahwa kita ini Indonesia terdiri dari bermacam suku dan golongan. Saya pernah jadi Jaksa di Manado. Di sana ada istilahnya ‘baku piara’, yaitu hidup bersama antara lelaki dan perempuan dewasa tanpa ada ikatan pernikahan. Itu ditolerir oleh masyarakat di sana,” tuturnya.

bahkan andi mengancam bahwa apabila RUU itu diberlakukan maka ketiga daerah itu akan keluar dari NKRI

Apa Kata Ulama

MUI dengan tegas menyetujui RUU tersebut dalam pernyataannya  Sekretaris Umum MUI DKI Jakarta  Samsul Maarif mendukung usulan pemidanaan pelaku perzinahan dalam RUU KUHP.

“MUI jelas sangat mendukung adanya usulan tersebut. Tidak hanya sekedar Islam, agama mana pun tidak memperbolehkan adanya perzinahan,” ujar Samsul di Jakarta, pekan lalu.

Sebagai kumpulan ulama, MUI menganggap perbuatan ‘kumpul kebo’ sebagai perzinahan karena tidak ada perkawinan. “Meskipun pasangan tersebut mengatakan suka sama suka,” jelas Samsul.

Dia memaparkan, dalam pandangan Islam, menjaga keturunan adalah kewajiban, sedangkan ‘kumpul kebo’ tidak jelas siapa keturunannya.

Islam mengategosikan zinah sebagai dosa besar. “Kalau yang melakukan perzinahan sudah menikah maka hukumannya dirajam, sedangkan yang belum menikah didera,” sambung Samsul. Dia menilai usulan pemidaan pelaku ‘kumpul kebo’ dilatarbelakangi upaya menjaga moral bangsa.

Bagaimana kita sebagai Umat Islam Menanggapinya , tentu kita sebagai Umat Islam sangat mendukung  RUU tersebut , hanya manusia yang suka akan sex bebas dan berbuat kerusakan saja yang menentangnya

Hadist Nabi Muhammad Saw

“Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Isra: 32).
lihat jg An-Nur: 30–31

Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi saw. Sabdanya : “Nasib anak Adam mengenai zina telah ditetapkan. Tidak mustahil dia pernah melakukannya. Dua mata, zinanya memandang. Dua telinga, zinanya mendengar. Lidah, zinanya berkata. Tangan zinanya memegang. Kaki, zinanya melangkah. Hati, zinanya ingin dan rindu, sedangkan faraj (kemaluan) hanya mengikuti atau tidak mengikuti.” (Hadis Shahih Muslim No. 2282)

bnu Abbas r.a.. menyatakan, “Tidak ada yang kuperhitungkan lebih menjelaskan tentang dosa-dosa kecil daripada hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda: ‘Allah telah menentukan bagi anak Adam bagiannya dari zina yang pasti dia lakukan. Zinanya mata adalah melihat [dengan syahwat], zinanya lisan adalah mengucapkan [dengan syahwat], zinanya hati adalah mengharap dan menginginkan [pemenuhan nafsu syahwat] …’.” (HR Bukhari & Muslim)

Hadits tersebut menunjukkan bahwa “zina mata”, “zina lisan”, dan “zina hati” itu tergolong “mendekati zina”. Namun, disamping tiga macam “zina kecil” ini, masih ada banyak jenis aktivitas “mendekati zina” lainnya, seperti ‘zina tangan’, ‘zina kaki’, ‘zina bibir’, dan ‘zina-zina bagian tubuh lainnya’, kecuali alat kelamin. (Kalau bersetubuh menggunakan alat kelamin, maka ini bukan lagi “mendekati zina”, melainkan sudah benar-benar berzina.)

Memang, sebagaimana penjelasan Ibnu Abbas dalam hadits tersebut, dosa “mendekati zina” itu tergolong “dosa kecil”. Sungguhpun demikian, perbuatan dosa yang “kecil” ini cenderung diremehkan oleh pelakunya. Inilah yang dalam hadits di atas disebut sebagai “bagiannya dari zina yang pasti dia [manusia] lakukan”

berdasarkan hadist ini mendekati zina saja dilarang apalagi benar benar berzina

Semoga bermaafaat

berbagai sumber

Iqb