Hal-Hal Yang Berkaitan Dengan Surat Al-Fatihah Bagian Ke 3

Publikasi: Selasa, 14 Jumadil Awwal 1434 H / 26 Maret 2013 08:35

Hal-Hal Yang Berkaitan Dengan Surat Al-Fatihah Bagian Ke 3

alblog.com/sr

Imam Syafii di dalam kitab Al-Imla mengatakan bahwa bacaan ta’awwuz dinyaringkan; tetapi jika dipelankan, tidak mengapa. Di da-lam kitab Al-Umm disebutkan boleh memilih, karena Ibnu Umar

membacanya dcngan pelan, sedangkan Abu Hurairah membacanya dengan suara nyaring. Tetapi bacaan ta’awwuz selain pada rakaat per-tama masih diperselisihkan di kalangan mazhab Syafii, apakah disu-natkan atau tidak, ada dua pendapat, tetapi yang kuat mengatakan ti-dak disunatkan.

Apabila orang yang membaca ta’awwuz mengucapkan, “A’uzu billahi minasy syaitanir rajim (aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk),” maka kalimat tersebut dinilai cukup

me-nurut Imam Syafii dan Imam Abu Hanifah.

 

Sebagian dari kalangan ulama ada yang menambahkan lafaz As-Sami’ul ‘alim (Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui), se-dangkan yang lainnya bahkan menambahkan seperti berikut: “Aku

berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk, sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui,” menurut As-Sauri dan Al-Auza’i.

Diriwayatkan oleh sebagian dari mereka bahwa dia mengucap-kan,

“Aku memohon perlindungan kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk,” agar sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh ayat dan berdasarkan kepada hadis Dahhak, dari Ibnu Abbas, yang telah

disebutkan tadi. Akan tetapi, lebih utama mengikuti hadis-hadis sahih seperti yang telah disebutkan.

 

Membaca ta’awwuz dalam salat hanya dilakukan untuk membaca Al-Qur’an, menurut pendapat Abu Hanifah dan Muhammad. Sedang-kan Abu Yusuf mengatakan bahwa ta’awwuz dibaca untuk mengha-dapi salat itu sendiri. Berdasarkan pcngertian ini, berarti makmum membaca ta’awwuz sekalipun imam tidak membacanya. Dalam salat Id (hari raya), ta’awwuz dibaca sesudah takbiratul ihram

dan sebelum takbir salat hari raya. Sedangkan menurut jumhur ulama sesudah tak-bir Id dan sebelum bacaan Al-Fatihah dimulai. Termasuk faedah membaca ta’awwuz ialah untuk membersihkan apa yang telah dilakukan oleh mulut, seperti perkataan yang tak ber-guna dan kata-kata yang jorok, untuk mewangikannya sebelummem-baca Kalamullah.

 

Bacaan ta’awwuz dimaksudkan untuk memohon pertolongan ke-pada Allah dan mengakui kekuasaan-Nya, sedangkan bagi hamba yang bersangkutan merupakan pcngakuan atas kelemahan dan keti-dakmampuannya dalam menghadapi musuh bebuyutan tetapi tidak kelihatan, tiada seorang pun yang dapat menyangkal dan menolakny kecuali hanya Allah yang telah menciptakannya. Setan tidak boleh

di-ajak bersikap baik dan tidak boleh berbaik hati kepadanya. Lain hal-nya dengan musuh dari jenis manusia (kita boleh bersikap seperti itu), sebagaimana yang disebuucan oleh beberapa ayat Al-Qur’an dalam ti-ga tempat, dan Allah Swt. telah berfirman:

Sesungguhnya hamba-hamba-Ku, kamu tidak dapat berkuasa atas mereka. Dan cukuplah Tuhanmu sebagai penjaga. (Al-Isra: 65)

 

Malaikat pernah turun untuk memerangi musuh yang berupa manusia. Barang siapa terbunuh oleh musuh yang kelihatan (yakni manusia), maka ia mati syahid. Barang siapa terbunuh oleh musuh yang tidak kelihatan, maka ia adalah orang yang mati dalam keadaan terlaknat. Barang siapa yang dikalahkan oleh musuh yang tampak, maka ia ada-lah orang yang diperbudak. Barang siapa yang dikalahkan ole musuh yang tidak kelihatan, maka ia adalah orang yang terfitnah atau berdo-sa. Mengingat setan dapat melihat manusia, sedangkan manusia tidak dapat melihatnya, maka manusia dianjurkan agar memohon perlin-dungan kepada Tuhan yang melihat setan, sedangkan setan tidak

da-pat melihat-Nya.

 

Isti’anah artinya memohon perlindungan kepada Allah dan ber-naung di bawah lindungan-Nya dari kejahatan semua makhluk yang jahat. Pengertian meminta perlindungan ini adakalanya dimaksudkan untuk menolak kejahatan dan adakalanya untuk mencari kebaikan, se-perti pengertian yang terkandung di dalam perkataan Al-Mutanabbi (salah seorang penyair), yaitu:

Wahai orang yang aku berlindung kepadanya untuk memperoleh apa yang aku cita-citakan, dan wahai orang yang aku berlindung kepadanya untuk menghindar dari semua yang aku takutkan.

Se-mua orang tidak akan dapat mengembalikan keagungan (kebe-saran) yang telah engkau hancurkan, dan mereka tidak dapat menggoyahkan kebesaran yang telah engkau bangun.

 

Makna a’uzu billahi minasy syaitanir rajim adalah “aku berlindung di bawah naungan Allah dari godaan setan yang terkutuk agar setan tidak dapat menimpakan mudarat pada agamaku dan duniaku, atau agar setan tidak dapat menghalang-halangi diriku untuk mengerjakan apa yang.diperintahkan kepadaku, atau agar setan tidak dapat mendorong-ku untuk mengerjakan hal-hal yang dilarang aku

mengerjakannya”.

Sesungguhnya tiada seorang pun yang dapat mencegah setan ter-hadap manusia kecuali hanya Allah. Karena itu, Allah Swt. memerin-tahkan agar kita bersikap diplomasi terhadap setan manusia dan ber-basa-basi terhadapnya dengan mengulurkan kebaikan kepadanya de-ngan tujuan agar ia kembali kepada wataknya yang asli dan tidak mengganggu lagi. Allah memerintahkan agar kita meminta

perlin-dungan kepada-Nya dari setan yang tidak kelihatan, mengingat setan yang tidak kelihatan itu tidak dapat disuap serta tidak terpengaruh oleh sikap yang baik, bertabiat jahat sejak pembawaan, dan tiada yang dapat mencegahnya terhadap diri kita kecuali hanya Tuhan yang menciptakannya.

 

Demikian pengertian yang terkandung di dalam ketiga ayat Al-Qur’an. Yang sepengetahuaiiku tidak ada ayat keempat yangsemakna seperti firman Allah Swt_ dalam surat Al-A’raf:

Jadilah engkau pemaaf, dan suruhlah orang mengerjakan yan makruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh. (Al-A’raf: 199)

 

Hal ini berkaitan dengan sikap terhadap musuh yang terdiri atas ka-langan manusia. Kemudian Allah Swt. berfirman:

Dan jika kamu ditimpa sesuatu godaan setan, maka berlindung-lah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Al-A’raf: 200)

 

 

Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik, Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan. Dan katakanlah, “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisik-an

setan. Dan aku berlindung (pula) kepada Engkau, ya Tuhan-ku, dari kedatangan mereka kepadaku.” (Al-Mu-minun: 96-98)

Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang an-taramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menja-di teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianu-gerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan besar. Dan jika setan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Se-sungguhnya Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Menge-tahui. (Fussilat: 34-36)

 

Kata syaitan menurut istilah bahasa berakar dari kata syatana, arti-nya “apabila jauh”. Watak setan memang jauh berbeda dengan watak manusia; dengan kefasikannya, setan jauh dari semua kebaikan.

Menurut pendapat lain ia berakar dari kata syata, karena ia dicip-takan dari api. Di antara mereka ada yang mengatakan bahwa kedua makna tersebut benar,

tetapi makna pertama lebih sahih karena di-perkuat oleh perkataan orang-orang Arab. Umayyah ibnu Abus Silt da-lam syairnya menceritakan anugerah yang dilimpahkan kepada Nabi Sulaiman a.s.:

Barang siapa (di antara setan) berbuat durhaka terhadapnya, niscaya dia (Nabi Sulaiman) menangkapnya, kemudian memenja-rakannya dalam keadaan dibelenggu.

 

Ternyata Umayyah ibnu Abu Silt mengatakan syatinin, bukan sya’itin; dan berkatalah An-Nabigah Az-Zibyani, yaitu Ziad ibnu Amr ibnu Mu’awiyah ibnu Jabir ibnu Dabab ibnu Yarbu’ ibnu Murrah ib-nu Sa’d ibnu Zibyan:

Kini Su’ad berada jauh darimu, nun jauh di sana ia tinggal, dan kini haiiku selalu teringat kepadanya.

Nabigah mengatakan bahwa Su’ad kini berada di tempat yang sangat jauh.

Imam Sibawaih mengatakan bahwa orang Arab mengatakan ta-syaitana fulanun, artinya “si Fulan melakukan perbuatan seperti per-buatan setan”. Seandainya kata syaitan ini berasal dari kata syata,

nis-caya mereka (orang-orang Arab) akan mengatakannya iasyayyata. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa yang benar adalah lafaz syaitan berakar dari kata syaiana yang berarti “jauh”. Karena itu, e-reka menamakan setiap orang —baik dari kalangan manusia, jin, ataupun hewan— yang bersikap membangkang tidak mau taat dengan sebutan “setan”.

Allah Swt. berfirman:

Dan demikianlah Kamijadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, ya-itu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin. Sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-per-kaiaan yang indah-indah untuk menipu (manusia) (Al-An’am: 112)

 

Di dalam Musnad Imam Ahmad disebutkan dari Abu Zar r.a. yang

menceritakan:

Rasulullah Saw. bersabda, “Hai Abu Zar, berlindunglah kepada Allah da’ri godaan setan manusia dan setan jin (yang tidak keli-hatan)!” Aku bertanya, “Apakah setan itu ada yang dari kalang-an manusia’T’ Beliau menjawab, “Ya.”

Di dalam kitab Sahih Muslim disebutkan dari Abu Zar pula bahwa

Rasulullah Saw. pernah bersabda:

Yang memutuskan salat ialah wanita, keledai, dan anjing hitam.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah bedanya antara anjing hitam, anjing merah, dan anjing kuning?’ Nabi Saw. menjawab

bahwa anjing hitam itu adalah setan.

Ibnu Wahb mengatakan bahwa telah menceritakan kepadanya Hisyam ibnu Sa’d, dari Zaid ibnu Aslam, dari ayahnya, bahwa Khalifah Umar pemah mengendarai seekor kuda birzaun. Ternyata kuda itu melang-kah dengan langkah-langkah yang sombong, maka Umar memukulinya, tetapi hal itu justru makin menambah kesombongannya. Umar turun darinya dan berkata, “Kalian tidak memberikan kendaraan ke-padaku kecuali kendaraan setan, dan tidak sekali-kali aku turun dari-nya melainkan setelah aku ingkar terhadap diriku sendiri.” Sanadasar ini sahih.

 

Ar-rajim adalah wazanfa’il, tetapi bermakna maful, artinya “se-tan itu terkutuk dan jauh dari semua kebaikan”, sebagaimana penger-tian yang terkandung di dalam firman-Nya:

Sesungguhnya Kami menghiasi langit yang dekat dengan bin-tang-bintang, dan Kami jadikan bintang-bintang itu alat pelem-par setan. (Al-Mulk: 5)

Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan (telah memeliharanya) sebe-nar-benarnya dari setiap setan yang sangat durhaka. Setan-setan itu tidak dapat mendengar-dengarkan (pembicaraan) para malai-kat dan mereka dilempari dari segala penjuru, untuk mengusir mereka, dan bagi mereka siksaan yang kekal. Akan tetapi, barang siapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pem-bicaraan), maka ia dikejar oleh suluh api yang cemerlang.

(As-Saffat: 6-10)

Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang-orang yang memandang(nya), dan Kami menjaganya dari tiap-tiap se-tan

yang terkutuk, kecuali setan yang mencuri-curi (berita) yang dapat didengar (dari malaikat), lalu dia dikejar oleh semburan apiyang terang. (Al-Hijr: 16-18)

Masih banyak lagi ayat-ayat lainnya. Pendapat lain mengatakan bah-wa rajim bermakna rajim, karena setan merajam manusia dengan go-daan dan rayuannya. Akan tetapi, makna yang pertama lebih terkenal dan lebih sahih.