Polisi Anarkis

Publikasi: Selasa, 9 Sya’ban 1434 H / 18 Juni 2013 10:43

Polisi Anarkis

sabilarosyad – Aparat kepolisian yang bertindak anarkis terhadap para demonstran dan jurnalis menandakan aparat berbaju coklat  aparat penguasa.

“Tindakan represif kepada demonstran dan jurnalis adalah tindakan biadab yang menunjukkan bahwa Polri bukan sebagai aparat negara, melainkan sebagai aparat penguasa,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane kepada wartawan, Selasa (18/06).

Kata Neta, Polda Jambi dan Polda Maluku Utara harus bertanggung jawab dalam kasus kekerasan terhadap jurnalis, dan segera menangkap pelaku penembakan karena tindakan tersebut melanggar UU Pers nomor 40/1999 pasal 4 tentang kebebasan pers.

“Kapolri segera mencopot para kapolda yang membiarkan anggotanya melakukan tindakan represif terhadap wartawan, seperti di Jambi dan Ternate,” ungkap Neta.

IPW mendata, aksi demo Senin (17/6/2013) siang terjadi di 45 kota, ibukota propinsi dan tingkat dua. Bahkan demo penolakan kenaikan harga BBM terjadi juga di Pacitan, kampung halaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Demonstran di Pacitan sempat bentrok dengan polisi. Sebagian besar aksi demo Senin diwarnai bentrokan, yang paling berdarah terjadi di Ternate.

Aksi demo Senin siang yang diwarnai bentrokan mengakibatkan 52 mahasiswa luka-luka (10 di antaranya tertembak) dan empat polisi luka. Selain itu ada 15 mahasiswa ditangkap dengan tuduhan sebagai provokator.

Muhamadiyah Mengecam 

Aparat kepolisian tidak berhak bertindak anarkis terhadap masyarakat yang berdemonstrasi menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Semestinya pula, aparat keamanan selain mengamankan demonstrasi ikut membantu agar suara dan aspirasi demonstran didengarkan,” kata Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah Saleh Daulay kepada wartawan, Selasa (18/06).

Kata Saleh, aparat kepolisian harus bertindak netral meskipun ada suara lantang para demonstran yang menolak kenaikan harga BBM.

“Polisi harus netral. Kalaupun ada suara lantang bernada emosional, tentu itu tidaklah ditujukan kepada aparat kepolisian,” papar Saleh.

Menurut Saleh, kalau suara lantang itu ditanggapi berlebihan, bisa saja emosi para pendemo malah justru berbalik arah kepada aparat yang ada di lapangan.

Saleh juga meminta aparat kepolisian juga menindak berbagai pihak yang menimbun BBM. “Tindakan para penimbun BBM jauh lebih berbahaya dan merugikan dibandingkan aksi-aksi demonstrasi yang ada,” pungkas Saleh

Arus Mendukung 

“Aliansi Rakyat Untuk SBY (ARUS), mendukung langkah aparat keamanan Polri untuk menindak tegas siapapun yang melakukan aksi anarkis,” kata Sekjen ARUS, Heru Purwoko kepada wartawan, Selasa (18/06).

Heru menyerukan kepada para demonstran yang menyuarakan aspirasinya berjalan dengan cara santun. “Menyerukan kepada seluruh  pihak untuk berdemokrasi santun,” papar Heru.

Kata Heru, masyarakat sangat dirugikan dengan unjuk rasa yang memblokir jalan, dan merusak milik negara.

“Masyarakat dirugikan akibat adanya unjukrasa yang memblokir jalan, membakar ban, merusak fasilitas negara, menutup bandara, terminal bahkan melempari petugas dengan batu dan bom molotov,” pungkas Heru.