Islam Sebagai Suatu System Kehidupan Bagian 3

Publikasi: Senin, 13 Jumadil Awwal 1434 H / 25 Maret 2013 06:49

Islam Sebagai Suatu System Kehidupan Bagian 3

myblog.com/sr

c. Sistem Ekonomi Islam

Dasar-Dasar Sistem Ekonomi Islam
Dasar-dasar ekonomi dalam Islam adalah ajaran Islam itu sendiri. Dari ajaran-ajaran Islam yang terpenting yang berkaitan erat dengan membahas ekonomi adalah sebagai berikut:

1. Pemilikan hanya bagi Allah

Allah berfirman:
Dan kepunyaan Allah-Iah kerajaan langit  dan bumi dan apa saja yanq ada diantara keduanya. (QS. Al Maidah (5): 18).
Dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaanNya. (Q.S. AI-Isra’ (17):111).
Katakanlah. serulah mereka yang karnu   anggap (sebagai tuhan) selain Allah. mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah- pun dilangit dan diburni. Dan mereka tidak mempunyai sesuatu-pun dalam (penciptaan) langit dan buml (QS. Saba’(34): 22).
Alam dan apa saja yang ada dalam alam semesta adalah milik Allah semata, tanpa kecuali. Oleh karena itu Allah sendirilah yang berkuasa penuh berbuat terhadap apa yang Allah miliki.  Allah yang memiliki kekuasaan penuh mengatur dan mengurus atas semua makhluk.

2. Benda-benda adalah makhluk Allah

Segala yang dapat dimiliki, dapat diambil manfaatnya, dan dapat disimpan oleh manusia adalah milik Allah. Allah berfirman :
Dan berikanfah kepada mereka sebagian dari harta Allah yang dikaruniakanNya kepadamu. (QS. An Nur (24): 33).

3. Semua makhluk diberi kemudahan untuk memanfaatkan dari alam ini.

Bahkan dengan segala kemurahannya memudahkan umat untuk mengambil manfaat dari apa vang diciptakan. Allah berfirman :
Dan Dia menunjukkan untuk kamu apa yang ada dilangit dan apa yang ada di bumi semuanya (sebagai suatu rahmat daripada-Nya (QS. Al Jatsiyah (45):13).
Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa-apa yang dilarigit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan untukmu nikmatnya lahir dan batin. (QS. Luqman (31): 20).
Katakanlah. Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan bagl kamu pendengaran, penglihatan, dan hati.(QS. Al Mulk (67): 23).

4. Pemilikan manusia atas benda-benda hanya kiasan

Pemilikan yang sebenarnya hanya bagi Allah, dan Allah dengan kemurahanNya mengizinkan kepada seluruh umat manusia untuk mengambil dari benda dan berbuat apa saja terhadap benda yang ada padanya.  Allah berfirman:
Bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah suatu cobaan. (QS.Al Anfal (8): 28).
Dan janganlah sebagitan kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan batil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim-hakim suipaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa padahal kamu mengetahui. (QS. Al Baqarah (2): 188).
Rasulullah SAW bersabda :

Tidak dihalalkan harta seorang muslim melainkan  dengan secara yang rnenyenangkan hati. (AI-Hadits).
Dari beberapa ayat serta hadits diatas memberikan pengertian bahwa pemilikan manusia terhadap harta yang dimiliki adalah pemilikan semu sedangkan pemilik sesungguhnya adalah Allah SWT. Oleh karena itu dalam penggunaannya manusia tidak boleh semuanya sendiri, tetapi harus sesuai dengan batas-batas yang Allah tentukan.

5. Benda hendaklah dipergunakan menurut yang diridhai Allah

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (bagian) kampung akherat dan janganlahkamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi. (QS. Al Qashas (28): 77)

Benda dipergunakan untuk beribadah kepada Aliah, bukan berarti dilarang mengambil manfaat dari benda itu untuk kepentingan dunia, diri pribadinya, atau menahan dirinya mengambil manfaat dari seluruh benda yang Allah ciptakan.
6. Dunia sebagai alat untuk mencapai tujuan

Dunia bukan menjadi tujuan hidup manusia, melainkan alat untuk mencapai tujuan yang telah Allah tetapkan, yaitu untuk persiapan menghadapi hari kiamat, ialah sebagai alat untuk beribadah kepada Allah.
Allah berfirman:
Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi shaleh adalah baik pahalanya disisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan. (QS. Al Kahfi (18): 46)
Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami mengujinya mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya. (QS. Al Kahfi (18): 7))

Ciri-Ciri Sistem Ekonomi Islam

1. Memelihara dan menjaga Fithrah manusia
Allah SWT telah menciptakan yang mempunyai instink, kecenderungan dan keinginan, kesemuanya ini tidak dihilangkan/dimatikan sama sekali oleh Islam. Akan tetapi Islam mengendalikan dan menyalurkan kearah yang diridhai Allah serta berusaha menjaga agar jangan sampai menyelewng. Oleh karena itu sistem ekonomi Islam selalu dan menjaga fithrah manusia. Firman Allah:
Dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebih-lebihan. (QS.  Al Fajr (89): 20)
Islam juga menetapkan hak pewarisan karena manusia memang fitrahnya  mencintai anak-anaknya, dan dia merasa sedih meninggalkan anak-anaknya lebih-lebih kalau anak-anak yang ditinggalkan  itu tidak memiliki apa-apa, oleh karena itu Islam menetapkan hak pewarisan ini, karena pewarisan sesuai dengan fitrah manusia.
Allah berfirman:
Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakan mereka anak-anak yang lemah yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh karena itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS. An Nisa’ (4): 9)

Dalam  sistem ekonomi Islam juga ditetapkan bahwamanusia boleh menikmati hasil dari kesungguhannya dan usahanya. Karena memang fitrah manusia bahkan menjadi sifat manusia menolak orang lain bersama dengan persetujuan dan keinginannya atau karena mengaharap pahala dari Allah SWT.

“Dan Allah melebihkan sebagian kamu dari sebagian yang lain dalam hal rizki, tetapi orang-orang yang dilebihkan (rizkinya) tidak mau memberikan rizki mereka kepada budak-budak yang mereka miliki agar mereka sama (merasakan) rizki itu. Mengapa mereka mengingkari nikmat Allah. ‘ (An Nahl (16): 71)

2. Memelihara Norma Akhlaq
Sistem ekonorni Islam selalu rnemelihara norma-norma akhlaq yang mulia dan manusia tidak boleh rnelanggar norma akhlaq tersebut atau melampaui dari yang telah ditetapkan Allah dalam aktivitas ekonomi. Karena rnasyarakat Islam adalah masyarakat yang berlandaskan akhlaq seperti cinta kasih, bertolong menolong. Allah berfirman:
‘Bertolong-tolonglah kamu dalam berbuat kebajikan dan taqwa dan janganlah kamu bertolong-tolongan dalam berbuat dosa dan aniaya. ‘ (Al Maidah (5).- 2)

3. Memenuhi Kepentingan Masyarakat
Sistem ekonomi Islam mendorong manusia agar mencapai kepentingan hidupnya untuk setiap orang yang ada dalam masyarakat Islam. Islam memberikan beberapa cara untuk memenuhi umat:

a. Secara prinsip setiap manusia diberi beban untuk memenuhi hajat hidupnya, yaitu dengan mengerahkan daya kemampuannya untuk mencapainya. Karena itu Islam mendorong manusia agar bekerja dan berusaha dan sangat memuji orang-orang yang bekerja.
“Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebarlah kamu di muka bumi dan carilah karunia Allah” (Al Jumuah (62): 10)
Rasulullah bersabda:
‘Seutama-utamanya penghasilan adalah penghasilan seorang laki-Iaki dari hasil tangannya sendiri. ” (Al Hadits).
b. Negara berkewajiban menyediakan lapangan kerja bagi setiap orang yang mampu bekerja.
c. Apabila seseorang tidak dapat mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri karena suatu hal maka anggota keluarga yang lain harus memberikan nafkah sesuai dengan ketentuan yang telah diatur fiqh Islam.
d. Bila orang tak memiliki pekerjaan, atau hidup fakir dan dia tidak memiliki sanak keluarga yang mampu menutupi keperluannya maka kepadanya diberikan harta zakat. Zakat memang merupakan salah satu sumber keuangan untuk menjamin orang fakir miskin dan orang-orang yang berhajat.
e. Apabila harga zakat belum mencukupi maka untuk memenuhi keperluan tersebut diambilkan dari Baitul mal.
f. Bila Baitul Mal keuangan tidak memenuhi keperluan mereka maka pembiayaan hidup mereka dibebankan kepada orang-orang kaya.

bersambung