Hadis-hadis Yang Menerangkan keutamaan Surat Al-Fatihah

Publikasi: Jum'at, 10 Jumadil Awwal 1434 H / 22 Maret 2013 09:51

Hadis-hadis Yang Menerangkan keutamaan Surat Al-Fatihah

myblog.com/sr

Imam Ahmad ibnu Muhammad ibnu Hambal di dalam kitab Musnad-nya mengatakan, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Sa’id, dari Syu’bah yang mengatakan bahwa telah menceritakan kepadaku Khubaib ibnu Abdur Rahman, dari Hafz ibnu Asim, dari Abu Sa’id ibnul Ma’la r.a. yang menceritakan:

 

“Aku sedang salat, kemudian Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. memanggilku, tetapi aku tidak menjawabnya hingga aku selesai dari salatku, lalu aku datang kepadanya dan ia bertanya, “Mengapa engkau tidak segera datang kepadakuT Aku menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sedang salat.” Beliau Shalallahu’alaihi wasallam. bersabda,

“Bukan-kah Allah Subhanahu wa Ta’ala. telah berfirman, ‘Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kalian’ (Al-Anfal: 24).”

Kemudian beliau Shalallahu’alaihi wasallam. bersabda,

“Sesungguh-nya aku benar-benar akan mengajarkan kepadamu surat yang paling besar dalam Al-Qur’an sebelum kamu keluar dari masjid ini.” Lalu beliau memegang tanganku. Ketika bttiau hendak keluar dari masjid,

aku bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguh-nya engkau telah mengatakan bahwa engkau akan mengajarkan kepadaku sebuah surat Al-Qur’an yang paling agung.

 Beliau menjawab, “Ya, Alhamdulillahi rabbil ‘alaminadalah sab’ul masani, dan Al-Qur’anul ‘azim yang diberikun kepadaku.”

Dcmikian pula menurut yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari Musaddad dan Ali ibnul Madini, keduanya dari Yahya ibnu Sa’id Al-Qattan dengan lafaz yang sama. Imam Bukhari pun meriwayatkan

ha-dis ini pada bagian lain dalam tafsirnya, dan diriwayatkan pula olch Abu Daud, Nasai, dan Ibnu Majah dari berbagai jalur melalui Syu’-bah dengan lafaz yang sama. Al-Waqidi meriwayatkannya dari Mu-hammad ibnu Mu’az Al-Ansari, dari Khubaib ibnu Abdur Rahman, dari Abu Sa’id ibnul Ma’la, dari Ubay ibnu Ka’b hadis yang semisal. Di dalam kitab Muwatta’ Imam Malik terdapat sebuah hadis yang perlu diperhatikan. Hadis tersebut diriwayatkan oleh Imam Ma-lik dari Al-Ala ibnu Abdur Rahman ibnu Ya’qub Al-Harqi, bahwa Abu Sa’id maula Amir ibnu Kuraiz telah menceritakan kepada mere-ka bahwa

Rasulullah pernah memanggil Ubay ibnu Ka’b yang sedang salat. Setelah Ubay menyelesaikan salatnya, lalu ia menjumpai

Nabi Shalallahu’alaihi wasallam.Nabi Shalallahu’alaihi wasallam. memegang tangan Ubay, saat itu beliau hendak ke-luar menuju pintu masjid. Kemudian beliau Shalallahu’alaihi wasallam. bersabda, “Sesung-guhnya aku benar-benar berharap sebelum kamu keluar dari masjid ini kamu sudah mengetahui suatu surat yang belum pernah diturunkan di dalam Taurat, Injil, dan tidak ada pula di dalam Al-Qur’an surat yang serupadengannya.”

Ubay melanjutkan kisahnya, “Maka aku mengurangi kecepatan langkahku karena mengharapkan pelajaran ter-sebut, kemudian aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, surat apakah yang engkau janjikan kepadaku itu?’

Bcliau Shalallahu’alaihi wasallam. bcrsabda, ‘Apakah yang engkau baca bila membuka salatmu?’ Aku mcmbaca alhamdu lillahi rabbil ‘alamina sampai akhir surat,’ lalu beliau bcrsabda, ‘Itulah surat yang kumaksudkan. Surat ini adalah sab’ul masani dan Al-Qur”anul ‘azim yang diberikan kepadaku’.”

Abu Sa’id yang terdapat dalam sanad hadis ini bukanlah Abu Sa’id ibnul Ma-la seperti yang diduga oleh Ibnul Asir di dalam kitab Jami’ul Usul-nya dan orang-orang yang mengikuti pendapatnya. Ka-rena sesungguhnya Ibnul Ma-la adalah seorang sahabat dari kalangan Ansar, sedangkan Abu Sa’id maula ibnu Amir adalah seorang tabi’in, salah seorang maula Bani Khuza’ah (yaitu Abdullah Amir Ibnu Ku-raiz Al-Khuza’i). Hadis yang pertama muttasil dan berpredikat sahih, sedangkan hadis kedua ini lahiriahnya munqali’ jika memang Abu Sa’id tidak mendengarnya dari Ubay ibnu Ka’b. Jika Abu Sa’id be-nar-benar mendengarnya dari Ubay, maka untuk kebersihannya disya-ratkan disebutkan di dalam kitab Sahih Muslim.

Menurut Imam Ahmad, hadis ini diriwayatkan pula melalui Ubay ibnu Ka’b, bukan hanya dari satu jalur. Imam Ahmad mengatakan,te-lah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada ka-mi Abdur Rahman ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Al-Ala ibnu Abdur Rahman, dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a. yang menceritakan bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. keluar menemui Ubay ibnu Ka’b yang saat itu sedang salat.

Beliau memanggil, “Hai Ubay!” Ubay

menoleh, tetapi tidak menjawab, lalu ia mempercepat salatnya. Setelah itu ia segera menemui Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam., lalu bersalam kepada-nya, “Assalamu’alaika, ya Rasulallah.” Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. menjawab, “Wa’alaikas salam, hai Ubay. Apakah yang mencegahmu untuk tidak menjawabku ketika aku memanggilmu?” Ubay menjawab, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sedang dalam salatku.”

 

Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. bersabda, “Tidakkah engkau menjumpai dalam apa yang telah diwahyukan oleh Allah kepadaku, bahwa penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kalian kepada suatu yang mem-beri kehidupan kepada kalian? (Al-Anfal: 24).”

Ubay menjawab, “Mereka benar, wahai Rasulullah, aku tidak akan mengulanginya lagi.”

Rasul Shalallahu’alaihi wasallam. bersabda, “Sukakah kamu bila aku mengajarkan ke-padamu suatu surat yang tidak pernah diturunkan di dalam kitab Tau-rat, tidak dalam kitab Injil, tidak dalam kitab Zabur, tidak pula di da-lam

Al-Qur’an ada surat yang serupa dengannya?”

Ubay menjawab, “Ya,wahai Rasulullah.”

Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. bersabda, “Sesungguhnya aku benar-benar berharap, mudah-mudahan sebelum aku keluar dari pintu ini kamu sudah mengetahuinya.” Lalu Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. memegang tangan Ubay seraya berbicara dengannya, dan Ubay memper-lambat langkahnya karena khawatir beliau sampai di pintu masjid sebelum menyampaikan hadisnya. Ketika mereka mendekati pintu tersebut, Ubay bertanya, “Wahai Rasulullah, surat apakah yang engkaujanjikan kepadaku itu?”

Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. bertanya, “Surat apakah yang kamu baca dalam salat?” Lalu Ubay membacakan kepadanya surat Ummul Qur’an,

sesudah itu beliau Shalallahu’alaihi wasallam. bersabda, “Demi Tuhan yang jiwaku berada dalam gcnggaman kckuasaan-Nya, Allah tidak pemah menurunkan di dalam kitab Taurat, tidak dalam kitab Injil serta tidak dalam kitab Zabur, tidak pula dalam Al-Qur’an suatu surat yang serupa dcngan surat itu (Ummul Qur’an). Sesungguhnya surat itu adalahAs-Sab’ul masani.”

 

Hadis ini diriwayatkan pula olch Imam Turmuzi dari Qutaibah, dari Ad-Darawardi, dari Al-Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah r.a. Lalu Imam Turmuzi mengetcngahkan hadis ini, dan pada hadisnya ini

tcrdapat kalimat, “Sesungguhnya Al-Fatihah ini adalah As-Sab’ul masani dan Al-Qur’anul ‘azim yang diturunkan kcpadaku.” Kemudian Imam Turmuzi mcngatakan bahwa hadis ini berpredikat hasan atau

sahih. Dalam bab yang sama diriwayatkan pula hadis ini melalui Anas ibnu Malik.

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Abdullah ibnu Imam Ahmad, dari Ismail ibnu Abu Ma-mar, dari Abu Usamah, dari Abdul Hamid ibnu Ja’far, dari Al-Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Ubay ibnu

Ka’b, lalu ia mcngetengahkan hadis ini dengan panjang lebar, semisal dengan hadis di atas atau mcndckatinya.

Hadis ini diriwayatkan pula olch Imam Turmuzi dan Imam Nasai sccara bcrsamaan, dari Abu Ammar Husain ibnu Hurayyis, dari Al-Fadl ibnu Musa, dari Abdul Hamid ibnu Ja’far, dari Al-Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Ubay ibnu Ka’b yang menceritakan

bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. telah bcrsabda:

Allah lidak pernah menurunkan di dalam kitab Taurat, tidak pula dalam kitab Injil hal yang semisal dengan Ummul Qur’an; ia adalah As-Sab’ul masani dan ia terbagi antara Aku (Allah Subhanahu wa Ta’ala.) dan hamba-Ku menjadi dua bagian.

Demikianlah menurut lafaz Imam Nasai. Imam Turmuzi mengatakan bahwa hadis ini hasan lagi garib.

Imam Ahmad mengatakan, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ubaid, telah menceritakan kepada kami Hasyim (yakni Ibnul Barid), telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muham-mad ibnu Aqil, dari Jabir yang menceritakan, “Aku sampai kepada Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. yang pada saat itu air (wudu untuk beliau) telah di-tuangkan, maka aku mengucapkan, ‘Assalamu ‘alaika, ya Rasulallah. Tetapi beliau tidak menjawabku. Maka aku ucapkan lagi, ‘Assalamu ‘aiaika, ya Rasulallah.’ Beliau tidak menjawabku, dan kuucapkan lagi, ‘Assalamu ‘alaika, ya Rasulallah,’ tetapi beliau tetap tidak menja-wabku. Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. berjalan, sedangkan aku berada di belakang-nya hingga beliau masuk ke dalam kemahnya. Kemudian aku masuk ke dalam masjid, lalu duduk dalam keadaan bersedih hati dan mu-rung.

Kemudian Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. keluar menemuiku, sedangkan be-liau telah bersuci, lalu bersabda, ‘Wa’alaikas salam warahmatullahi wabarakatuh, wa’alaikas salam warahmatullahi wabarakatuh,

wa’alaikas salam warahmatullah.’

Kemudian beliau bersabda,

‘Mau-kah aku ajarkan kepadamu, hai Abdullah ibnu Jabir, suatu surat yang paling baik dalam Al-Qur’an?’ Aku menjawab, ‘Tentu saja aku mau, wahai Rasulullah.’ Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. bersabda, ‘Bacalah Alhamdu

lil-lahi rabbil ‘alamina hingga selesai’.”

Sanad hadis ini jayyid (baik), dan Ibnu Aqil yang ada dalam sa-nad hadis ini hadisnya dipakai sebagai hujah oleh para pemuka imam, sedangkan Abdullah ibnu Jabir adalah seorang sahabat yang oleh Ib-nul

Jauzi disebut seorang dari kalangan Bani Abdi. Pendapat yang lain mengatakan bahwa dia adalah Abdullah ibnu Jabir Al-Ansari Al-Bayadi, mcnurut Al-Hafiz ibnu Asakir. Mereka menyimpulkan dalil dari hadis ini dan yang semisal de-ngannya, bahwa sebagian dari ayat dan surat mempunyai kelebihan

tersendiri atas sebagian yang lainnya. Sepcrti yang diriwayatkan dari banyak ulama, antara lain Ishaq ibnu Rahawaih, Abu Bakar ibnul Arabi, dan Ibnu Haffar dari kalangan mazhab Maliki. Scdangkan se-golongan lainnya dari kalangan ulama berpendapat bahwa tiada ke-utamaan dalam hal tersebut karena semuanya adalah Kalamullah, agar keutamaan ini tidak memberikan kesan bahwa hal yang dikalahkan keutamaannya mengandung kekurangan, sekalipun pada kenyata-annya semua mempunyai keutamaan.

 

Demikian menurut yang dinukil oleh Al-Qurtubi, dari Al-Asy’ari, Abu Bakar Al-Baqilani, Abu Hatim ibnu Hibban Al-Busti, Abu Hayyan, dan Yahya ibnu Yahya, serta menurut salah satu riwayat dari Imam Malik. Imam Bukhari di dalam Fadailil Qur’an mengatakan, telah men-ceritakan kepada kami Muhammad ibnul Musanna, telah mencerita-kan kepada kami Wahb, telah menceritakan kepada kami

Hisyam, da-ri Muhammad ibnu Ma’bad, dari Abu Sa’id Al-Khudri yang menceri-takan bahwa ketika kami berada dalam suatu perjalanan, tiba-tiba da-tanglah seorang budak perempuan muda, lalu ia berkata,

“Sesungguh-nya pemimpin kabilah terkena sengatan binatang beracun, sedangkan kaum lelaki kami sedang tidak ada di tempat, adakah di antara kalian yang dapat me-ruqyah? Maka bangkitlah seorang

laki-laki dari ka-lang’an kami bersamanya, padahal kami sebelumnya tidak pernah memperhatikan bahwa dia dapat mc-ruqyah (pengobatan dengan jam-pi). Kemudian lelaki itu mc-ruqyah-nya, dan ternyata

pemimpin ka-bilah sembuh, maka pemimpin kabilah memerintahkan agar memberi-nya upah berupa tiga puluh ekor kambing dan memberi kami minum laban (yoghurt). Kctika lclaki itu kembali,

kami bcrtanya kepadanya, “Apakah kamu dapat me-ruqyah atau kamu pandai mc-ruqyah?” Ia menjawab, “Tidak, aku hanya me-ruqyah dengan membaca Ummul Kitab.” Kami berkata, “Janganlah kalian mcmbicarakan sesuatu pun sebclum kita sampai dan bcrtanya kepada Rasulullah.” Kctika tiba di Madinah, kami ceritakan hal itu kepada Nabi Shalallahu’alaihi wasallam., dan beliau menja-wab, “Siapakah yang membcritahukan kepadanya bahwa Al-Fatihah adalah ruqyah? Bagi-bagikanlah dan bcrikanlah kepadaku satu bagian darinya!”

 

Abu Ma’mar mengatakan telah menceritakan kepada kami Abdul Waris, telah menceritakan kepada kami Hisyam, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Sirin, telah menceritakan kepadaku Ma’bad ibnu Sirin, dari Abu Sa’id Al-Khudri, hadis yang sama. Imam Muslim dan Imam Abu Daud telah meriwayatkannya pula me-lalui riwayat Hisyam, yaitu Ibnu Hassan, dari Ibnu Sirin dengan lafaz yang

sama. Menurut sebagian riwayat yang diketengahkan Imam Muslim, Abu Sa’id Al Khudri adalah orang yang me-ruqyah orang yang terse-ngat binatang berbisa itu. Mereka menyebutkan orang yang terkena sengatan binatang berbisa dengan sebutan Salim (orang yang sehat) dengan harapan semoga ia sembuh.

Imam Muslim di dalam kitab Sahih-nya dan Imam Nasai di da-lam kitab Sunan-nya telah meriwayatkan dari hadis Abul Ahwas Sa-lamibnu Salim, dari Amman ibnu Zuraiq, dari Abdullah ibnu Isa ibnu Abdur Rt iinan ibnu Abu Laila, dari Sa’id ibnu Jubair, dari Ibnu Abbasyang menceritakan, “Ketika kami sedang bersama Rasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. yang saat itu sedang bersama Malaikat Jibril, tiba-tiba Jibril mendengar

suara gemuruh di atasnya, lalu Jibril mengangkat pan-dangannya ke langit dan berkata, ‘Ini adalah suara pintu langit dibu-ka, pintu ini sama sekali belum pernah dibuka.’ Lalu turunlah seorang malaikat dan

langsung datang kepada Nabi Shalallahu’alaihi wasallam.,

kemudian berkata:

Bergembiralah dengan dua cahaya yang ielah diberikan kepada-mu, tiada seorang nabi pun sebelummu yang pernah diberi ke-duanya, yaitu Fatihatul Kitab dan ayat-ayat terakhir dari surat Al-Baqarah. Tidak sekali-kali kamu membaca suatu huruf dari-nya melainkan pasti kamu diberi (pahala)nya.

Demikianlah menurut lafaz riwayat Imam Nasai, hampir sama dengan lafaz Imam Muslim. Imam Muslim mengatakan, telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ibrahim Al-Hanzali (yaitu Ibnu Rahawaih), telah menceri-takan kcpada kami Sufyan ibnu Uyaynah, dari Al-Ala (yakni Ibnu Abdur Rahman ibnu Ya’qub Al-Kharqi), dari Abu Hurairah r.a.,

dari Nabi Shalallahu’alaihi wasallam. yang telah bersabda: Barang siapa salat tanpa membaca Ummul Qur’an di dalamnya,

maka salatnya khidaj sebanyak tiga kaliyakni tidak sempur-na.

Kemudian dikatakan kepada Abu Hurairah, “Sesungguhnya kami salat di belakang imam.” Abu Hurairah r.a. menjawab, “Bacalah untuk dirimu scndiri, karena sesungguhnya aku pernah mendengar

Rasulul-lah Shalallahu’alaihi wasallam. bersabda:

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala. berfirman, ‘Aku bagikan salat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta. Bila seorang hamba berkata, ‘Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah memuji-Ku.’ Bila ia berkata, ‘Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang,’ Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah menyanjung-Ku.’ Bila ia ber-kata, ‘Yang Menguasai hari pembalasan,’ maka Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah mengagungkan-Ku,’ dan adakalanya sesekali berfirman, ‘Hamba-Ku telah berserah diri kepada-Ku’ Bila ia berkata, ‘Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepa-da Engkaulah kami mohon pertolongan,’ maka Allah

berfirman, ‘Ini antara diri-Ku dan hamba-Ku, dan bagi hamba-Ku apa yang dia minta.’ Bila ia berkata, ‘Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nik:

mat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bu-kan (pula jalan) mereka yang sesat,’ maka Allah berfirman, ‘Ini untuk hamba-Ku dan bagi hamba-Ku yang dia minta “

 

Demikian pula yang diriwayatkan oleh Imam Nasai, dari Ishaq ibnu Rahawaih; keduanya meriwayatkannya dari Qutaibah, dari Malik, dari Al-Ala, dari Abus Saib maula Hisyam ibnu Zahrah, dari Abu Hu-rairah yang menurut lafaz hadis irii disebutkan:

Separonya buat-Ku dan separonya lagi buat hamba-Ku, bagi hamba-Ku apa yang dia minta.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq, dari Al-Ala. Imam Muslim meriwayatkannya pula melalui hadis Ibnu Juraij, dari Al-Ala, dari Abus Saib, seperti hadis ini. Ia meriwayatkannya melalui hadis

Ibnu Abu Uwais, dari Al-Ala, dari ayahnya dan Abus Sa’ib, kedua-nya menerima hadis ini dari Abu Hurairah. Imam Turmuzi mengata-kan bahwa hadis ini berpredikat hasan, dan aku pernah menanyakan

tentang hadis ini kepada Abu Zar’ah, maka ia menjawab bahwa ke-dua hadis ini berpredikat sahih, yaitu yang dari Al-Ala, dari ayahnya; dan yang dari Al-Ala, dari Abus Sa’ib. Hadis ini diriwayatkan pula oleh Abdullah ibnul Imam Ahmad, dari hadis Al-Ala, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Ubay ibnu Ka’b secara panjang lcbar. Ibnu Jarir mengatakan, telah menceritakan kepada kami Salih ibnu Mismar Al-Marwazi, telah mcnceritakan ke-pada kami Zaid ibnu Habbab, telah menceritakan kepada kami Anba-sah ibnu Sa’id, dari Mutarrif ibnu Tarif, dari Sa’id ibnu Ishaq, dari Ka’b ibnu Ujrah, dari Jabir ibnu Abdullah yang menceritakan bahwaRasulullah Shalallahu’alaihi wasallam. pcrnah bcrsabda:

 

 Allah Subhanahu wa Ta’ala. berfirman, “Aku bagikan salat antara Aku dan hamba-Ku menjadi dua bagian, dan bagi hamba-Ku apa yang dia min-ta.” Apabila seorang hamba mengucapkan, “Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam,” maka Allah berfirman, “Hamba-Ku telah memuji-Ku.” Apabila ia mengucapkan, “Yang Maha Pe-murah lagi Maha Penyayang,” Allah berftrman, “Hamba-Ku te-lah menyanjung-Ku,” kemudian Aliah berfirman, “Ini untuk-Kudan bagi hamba-Ku adalah yang sisanya.”

 

Hadis ini garib bila ditinjau dari segi kalimat terakhir ini